Hutan Nangro Aceh Darusalam

HUTAN KONSERVASI DI NANGRO ACEH DARUSALAM
TAMAN NASIONAL GUNUNG LEUSER
Luas 792.675 hektar – 1.094.692 hektar
Letak Kab. Aceh Tenggara, Kab. Aceh Selatan, Kab. Aceh Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kab. Langkat, Provinsi Sumatera Utara
Temperatur udara 21° – 28° C
Curah hujan 2.000 – 3.200 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 3.381 m dpl.
Letak geografis 2°50’ – 4°10’ LU, 96°35’ – 98°30’ BT
Taman Nasional Gunung Leuser merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan pantai, dan hutan hujan tropika dataran rendah sampai pegunungan.
Hampir seluruh kawasan ditutupi oleh lebatnya hutan Dipterocarpaceae dengan beberapa sungai dan air terjun. Terdapat tumbuhan langka dan khas yaitu daun payung raksasa (Johannesteijsmannia altifrons), bunga raflesia (Rafflesia atjehensis dan R. micropylora) serta Rhizanthes zippelnii yang merupakan bunga terbesar dengan diameter 1,5 meter.
Selain itu, terdapat tumbuhan yang unik yaitu ara atau tumbuhan pencekik.
Satwa langka dan dilindungi yang terdapat di taman nasional antara lain mawas/orangutan (Pongo abelii), siamang (Hylobates syndactylus syndactylus), gajah Sumatera (Elephas maximus sumatranus), badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis sumatrensis), harimau Sumatera (Panthera tigris sumatrae), kambing hutan (Capricornis sumatraensis), rangkong (Buceros bicornis), rusa sambar (Cervus unicolor), dan kucing hutan (Prionailurus bengalensis sumatrana).
Taman Nasional Gunung Leuser merupakan salah satu yang ditetapkan oleh UNESCO sebagai Cagar Biosfir. Berdasarkan kerjasama Taman Negara National Park di Malaysia.
Beberapa lokasi/obyek yang menarik untuk dikunjungi:
Gurah. Melihat dan menikmati panorama alam, lembah, sumber air panas, danau, air terjun, pengamatan satwa dan tumbuhan seperti bunga raflesia, orangutan, burung, ular dan kupu-kupu.
Bohorok. Tempat kegiatan rehabilitasi orangutan dan wisata alam berupa panorama sungai, bumi perkemahan dan pengamatan burung.
Kluet. Bersampan di sungai dan danau, trekking pada hutan pantai dan wisata goa. Daerah ini merupakan habitat harimau Sumatera.
Sekundur. Berkemah, wisata goa dan pengamatan satwa.
Ketambe dan Suak Belimbing. Penelitian primata dan satwa lain yang dilengkapi rumah peneliti dan perpustakaan.
Gunung Leuser (3.404 m. dpl) dan Gn. Kemiri (3.314 m. dpl).
Memanjat dan mendaki gunung.
Arung jeram di Sungai Alas. Kegiatan arung jeram dari Gurah-Muara Situlen-Gelombang selama tiga hari Atraksi budaya di luar taman nasional yaitu Festival Danau Toba pada
bulan Juni di Danau Toba dan Festival Budaya Melayu pada bulan Juli di Medan.
Musim kunjungan terbaik : bulan Juni s/d Oktober setiap tahunnya.
Cara pencapaian lokasi: Medan-Kutacane berjarak ± 240 km atau 8 jam dengan mobil, Kutacane-Gurah/Ketambe berjarak ± 35 km atau 30 menit dengan mobil, Medan-Bohorok/Bukit Lawang berjarak ± 60 km atau 1 jam dengan mobil, Medan-Sei Betung/Sekundur berjarak ± 150 km atau 2 jam dengan mobil, Medan-Tapaktuan berjarak ± 260 km atau 10 jam dengan mobil.
luas 1.094.692 hektar
Letak Kab. Aceh Tenggara, Kab. Aceh Selatan,
Kab. Aceh Singkil, Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam dan Kab. Langkat, Provinsi
Sumatera Utara
Temperatur udara 21° – 28° C
Curah hujan 2.000 – 3.200 mm/tahun
Ketinggian tempat 0 – 3.381 m dpl.
Letak geografis 2°50’ – 4°10’ LU, 96°35’ – 98°30’ BT

TAMAN WISATA ALAM (TWA) PULAU WEH
Seluas ± 1.300 Ha. Secara geografis TWA Pulau Weh terletak pada 0552’ Lintang Utara dan 9552’ Bujur Timur. Secara administratif termasuk Kecamatan Sukakarya, Kotamadya Sabang, Propinsi D.I. Aceh dan dari segi pengelolaan hutannya termasuk Resort Konservasi Sumber Daya Alam Iboih dan masuk pada Sub Balai Konservasi Sumber Daya Alam Propinsi D.I. Aceh.
Potensi sumber daya alam
a. Topografi
Keadaan topografi TWA Pulau Weh pada umumnya bergelombang, berbukitbukit sedang sampai curam dan di sepanjang pantai penuh dengan batubatuan.
Menurut hasil pengukuran Stasiun Meteorologi Sabang, Kotamadya Sabang, curah hujan yang tercatat rata-rata 1.745-2.232 mm/tahun, dengan angka terendah pada bulan Maret sebesar 18 mm dan angka tertinggi pada bulan September sebesar 276 mm. Pada bulan September dan Oktober terjadi peralihan dari musim kemarau ke musim penghujan.
Data hasil inventarisasi menunjukkan bahwa sepanjang jalan menuju ujung Bau banyak ditemukan permudaan dari pohon Tampu, Mentaling, Ara, Gelumpang dan lain-lain. Mendekati ujung Ba’u banyak ditemukan pohon-pohon besar antara lain pohon Beringin, Asam kandis, Damar laut, Bungo, Kenari, Ketapang dan lain-lain. Sedangkan vegetasi bawah didominasi oleh jeruk hutan yang berduri dan jenis rotan.
b. Fauna
Jenis satwa yang ada antara lain Kera, Babi hutan, Ular sawah, Ular sendok, dan berbagai jenis burung seperti Sri gunting, Celemeh, Alapalap, Punai, But-but, Bayan tiung yang sering terdengar suaranya, serta burung Dara nikobar yang pada musim-musim tertentu melakukan migrasi ke Pulau Weh.
Potensi wisata alam Di samping pemandangan alamnya yang indah serta kekayaan sumber daya alamnya yang beragam, di dalam kawasan Taman Wisata Alam Pulau Weh terdapat Tugu Kilometer Nol yang terletak di penghujung Pulau Weh, juga terdapat peninggalan perang dunia ke II yaitu berupa  gua-gua alam bekas pertahanan tentara Jepang tersusun, serta Pulau Weh juga merupakan pulau legenda di mana di dalam buku-buku tua disebut sebagai “Golden Island”.
Kegiatan wisata alam yang dapat dilakukan Beberapa kegiatan wisata yang dapat dilakukan antara lain : lintas alam, menikmati panorama alam pantai, berkemah dan kegiatan wisata tirta seperti memancing dan menikmati panorama matahari terbenam.
Sarana kemudahan dan pelayanan Beberapa fasilitas yang dapat mendukung kegiatan wisata antara lain : pondok penginapan yang terdapat di sekitar Iboih yang dibangun oleh
masyarakat, shelter, MCK, Masjid serta kios cinderamata yang terdapat di Gapang.
Pencapaian ke lokasi Taman Wisata Alam Pulau Weh, Sabang dapat dicapai melalui route :
· Banda Aceh – Pelabuhan Krueng Raya Malahayati sejauh 32 km dengan perjalanan darat dapat ditempuh dalam waktu 45 menit.
· Pelabuhan Krueng Raya Malahayati – Pelabuhan Balohan, Pulau Weh dengan kapal penyeberangan/ferry yang berangkat satu kali setiap hari pada jam 09.00 WIB dan menempuh waktu 2 jam.
· Pelabuhan Balohan – lokasi TWA Pulau Weh dengan perjalanan darat yang dapat ditempuh 1 jam.
Peluang usaha yang dapat dikembangkan
Peluang usaha yang dapat dikembangkan di TWA Pulau Weh antara lain : usaha jasa pemandu wisata, usaha jasa akomodasi, dan usaha jasa sarana boga.

2 Responses to Hutan Nangro Aceh Darusalam

  1. Tuti says:

    sya dengan 5 orang teman mau ke pulau rubiah dengan perjalanan:
    Jakarta – medan naik pesawat dan medan – Banda aceh naik bus … pertanyaan saya adalah:
    – Bus apa dari Medan ke Aceh, berapa lama/jam dan ongkosnya berapa ?
    – Banda Aceh ke pelabuhan Uleelee berapa jam ?
    – Jam berapa saja berangkat kapal dari Pelabuhan Ulee lee – Pelabuhan Balohan … begitu juga sebalik nya dari Pelabuhan Balohan – ke pelabuhan uleelee dan berapa ongkosnya
    – Jam berapa saja berangkat kapal dari
    – Dari Pelabuhan Balohan ke Iboh naik apa dan berapa ongkosnya.
    Terima kasih informasinya – Tuti

    • joni says:

      pilihan bus dari medan aceh ada banyak tapi biasanya bus pelangi dan kurnia adalah pilihan tepat karena kedua bus itu terbukti lebih cepat dan tepat waktu,untuk waktu tempuh biasa -+ 12 jam ongkosnya berkisar Rp100 ribu s/d Rp 200 ribu tergantung kelas.
      banda aceh ke kepelabuhan ulee lheu butuh waktu 10 menit

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s